Posted by: th13n4 on: Desember 13, 2008
Masyarakat Banjar mengenal berbagai jenis upacara mandi. Ada upacara mandi sebagai sebagai sarana penyembuhan penyakit, mandi untuk syarat amalan, mandi menjelang kawin dan mandi bagi wanita yang pertama kali hamil.
Tidak semua wanita yang partama kali hamil harus menjalani upacara mandi. Yang harus menjalaninya ialah mereka yang berasal dari keturunan yang memang secara turun temurun harus menjalaninya. Akan tetapi, ada sesuatu hal yang dapat mengharuskan seorang calon ibu untuk menjalani upacara mandi meskipun ia bukan berasal dari keturunan yang wajib menjalaninya. Hal tersebut dapat terjadi jika bayi yang berada dalam kandungannya mengharuskan calon ibu untuk melakukan upacara mandi tersebut. Menurut kepercayaan orang Banjar, apabila upacara tersebut dilalaikan atau bahkan tidak dilaksanakan dapat menyebabkan yang bersangkutan atau salah seorang kerabat dekat di “ pingit”. Sebagai akibat dari peristiwa “ pemingitan” itu proses kelahiran dapat berjalan lambat.
Masyarakat Banjar mengenal beberapa istilah mandi hamil. Salah satu diantaranya adalah upacara mandi “ Tian Mandaring” atau sering pula disebut upacara mandi “ Bapagar Mayang”.
A. Upacara Mandi Tian Mandaring ( Bapagar Mayang)
Upacara mandi “ Tian Mandaring” merupakan suatu upacara mandi hamil yang biasa dilaksanakan oleh wanita yang hamil pertama kali, terutama ketika kehamilannya telah berusia 7 bulan.
Pada masyarakat Banjar Batang Banyu sampai sekarang masih mengenal dan melaksanakan upacara mandi “Tian Mandaring” ini. Demikian halnya dengan masyarakat Banjar Kuala juga masih melaksanakannya. Masyarakat Banjar Kuala juga sering menyebut upacara mandi “ Tian Mandaring” dengan istilah upacara mandi “Bapagar Mayang”.
Dikatakan demikian karena upacara tersebut dikelilingi oleh benang yang direntangkan dari tiang ke tiang tebu (manisan) serta tombak (bila ada), sehingga merupakan ruang persegi empat. Pada benang-benang tersebut disangkutkan mayang-mayang pinang dan perlengkapan lainnya.
B. Maksud dan Tujuan Pelaksanaan Upacara
Adapun maksud dan tujuan dari pelaksanaan upacara mandi “ Tian Mandari” ini adalah untuk menolak bala dan mendapatkan keselamatan. Karena menurut kepercayaan sebagian masyarakat Banjar, wanita yang sedang hamil suka diganggu mahkluk-mahkluk halus yang jahat. Selain untuk memberikan keselamatan pada calon ibu, upacara ini juga dimaksudkan untuk memberi keselamatan bagi seluruh anggota keluarganya.
C. Waktu Pelaksanaan Upacara
Upacara mandi “Tian Mandaring” ini dilaksanakan pada umur kehamilan 7 bulan atau tidak lama sesudahnya. Pelaksanaannya adalah pada waktu turun bulan, khususnya pada hari-hari dalam minggu ke-3 bulan Arab. Upacara ini juga harus dilaksanakan pada waktu turun matahari, biasanya disekitar jam 14.00 dan tidak pernah setelah jam 16.00.
D. Pihak yang Terlibat Dalam Pelaksanaan Upacara
Pihak yang terlibat dalam pelaksanaan upacara ini diantaranya adalah orang tua dari kedua belah pihak baik ibu kandung ataupun ibu mertua, saudara-saudara, bidan kampong (dukun beranak) yang bertugas untuk memimpin upacara, Tuan Guru (Mualim) yang bertugas untuk membaca do’a selamat setelah upacara berakhir dan para undangan yaitu wanita-wanita tetangga dan kerabat dekat,umumnya terdiri dari ibu-ibu muda dan wanita-wanita muda yang sudah menikah. Wanita-wanita tua yang hadir biasanya adalah mereka yang banyak tahu tentang upacara ini.
E. Persiapan dan Perlengkapan Upacara
Sebelum upacara dilaksanakan terlebih dahulu dilakukan persiapan dan perlengkapan upacara. Upacara mandi hamil mengharuskan tersedianya 40 jenis penganan atau “wadai ampat puluh”. Mungkin sebenarnya berjumlah 41, atau bahkan lebih. Wadai 40 ini terdiri dari: apam (putih dan merah), cucur (putih dan merah), kawari, samban, tumpiangin (sejenis rempeyek di Jawa, tetapi kali ini tidak menggunakan kacang tanah melainkan kelapa iris), cicin (cincin, perhiasan dipakai di jari, dua jenis dan tiga warna), parut hayam (perut lilit ayam, tiga warna), sarang samut (sarang semut, tiga warna), cangkaruk (cengkaruk), ketupat (empat jenis), nasi ketan putih (dengan inti di atasnya), wajik, kokoleh (putih dan merah), tapai, lemang, dodol, madu kasirat (sejenis dodol tapi masih muda), gagati (empat jenis), dan sesisir pisang mahuli. Hidangan untuk para tamu ialah nasi ketan (dengan inti) dan apam dari wadai 40 ini, tetapi bisa juga ketupat dan sayur tumis ditambah dengan nasi ketan, atau hidangan lainnya.
Di Dalam pagar mayang, atau di tempat upacara mandi akan dilaksanakan, diletakan perapen, dan berbagai peralatan mandi. Sebuah tempayan atau bejana plastik berisi air tempat merendam mayang pinang (terurai), beberapa untaian bunga (kembang berenteng), sebuah ranting kambat, sebuah ranting balinjuang dan sebuah ranting kacapiring. Sebuah tempat air yang lebih kecil berisi banyu baya, yaitu air yang dimantrai oleh bidan, sebuah lagi berisi banyu Yasin, yaitu air yang dibacakan surah Yasin, yang sering dicampuri dengan banyu Burdah yaitu air yang dibacakan syair Burdah. Untuk keperluan mandi ini terdapat juga kasai (bedak, param) temugiring dan keramas asam jawa atu jeruk nipis. Dahulu, sebagai tempat duduk si wanita hamil itu diletakan sebuah kuantan (sejenis panci terbuat dari tanah yang diletakan tengkurap dan di atasnya diletakan bamban (bamban bajalin). Merupakan alat mandi pula ialah mayang pinang yang masih dalam seludangnya, kelapa tumbuh (berselimut kain kuning), benang lawai dan kelapa muda.
Untuk keperluan mandi hamil diperlukan dua buah piduduk. Sebuah akan diserahkan kepada bidan yang memimpin upacara dan yang membantu proses kelahiran, dan sebuah lagi sebagai syarat upacara. Yang pertama dilengkapi dengan rempah-rempah dapur, sedangkan yang sebuah lagi termasuk di dalamnya alat-alat yang diperlukan untuk melahirkan, ayam, pisau dan sarung berwarna kuning. Konon jenis kelamin ayam harus sesuai dengan jenis kelamin bayi yang akan lahir, sehingga praktis tidak mungkin disediakan, dan demikian pula alat-alat yang diperlukan untuk melahirkan biasanya juga belum tersedia, namun harus tegas dinyatakan sebagai ada. Bagian dari piduduk yang belum tersedia ini dikatakan sebagai “dihutang”, sebagai syarat menyediakan barang yang belum ada ini harus disediakan nasi ketan dengan inti, yang dihidangkan kepada hadirin setelah upacara selesai.
F. Proses Upacara
Setelah persiapan dan perlengkapan upacara telah tersedia, maka dilaksanakanlah proses upacara mandi hamil ini. Wanita hamil yang diupacarakan memakai pakaian yang indah-indah dan memakai perhiasan, duduk di atas lapik di ruang tengah sambil memangku sebiji kelapa tumbuh yang diselimuti kain kuning menghadapi sajian wadai ampat puluh. Setelah beberapa lama duduk dengan disaksikan oleh para undangan wanita, perempuan hamil itu turun ke pagar mayang sambil menggendong kelapa tumbuh tadi. Ketika ia turun ke pagar mayang, ia menyerahkan kelapa yang digendongnya kepada orang lain, bertukar pakaian dengan kain basahan kuning sampai batas dada, lalu duduk di atas bamban bajalin, sedemikian sehingga kuantan tanah langsung remuk. Para wanita tua yang membantunya mandi (jumlahnya selalu ganjil, sekurang-kurangnya tiga dan paling banyak tujuh orang dan seorang di antaranya bertindak sebagai pemimpinnya, yaitu biasanya bidan) menyiraminya dengan air bunga, membedakinya dengan kasai temugiring lalu mengeramasinya.
Selanjutnya para pembantunya itu berganti-ganti mamapaikan berkas mayang, berkas daun balinjuang dan berkas daun kacapiring kepadanya dan kadang-kadang juga kepada hadirin di sekitarnya. Proses berikutnya ialah menyiramkan berbagai air lainnya, yaitu banyu baya, yang telah dicampur dengan banyu Yasin atau banyu doa, dan banyu Burdah. Setiap kali disiram dengan air-air tersebut, si wanita hamil diminta untuk menghirupnya sedikit. Sebuah mayang pinang yang masih belum terbuka dari seludangnya diletakkan di atas kepala wanita hamil tersebut lalu ditepuk, diusahakan sekali saja sampai pecah. Mayang dikeluarkan dari seludangnya lalu diletakkan di atas kepala wanita hamil dan disirami dengan air kelapa muda tiga kali berturut-turut dengan posisi mayang yang berbeda-beda. Kali ini juga airnya harus dihirup oleh wanita hamil itu.
Kemudian diambil dua tangkai mayang dan diselipkan di sela-sela daun telinga si wanita hamil masing-masing sebuah. Lalu dua orang perempuan tua membantunya meloloskan lawai dari kepala sampai ke ujung kaki, tiga kali berturut-turut. Untuk melepaskan lawai dari kakinya, pada kali yang pertama ia melangkah ke depan, kali yang ke dua melangkah ke belakang dan terakhir kembali melangkah ke depan.
Sesudah itu badannya dikeringkan dan ia berganti pakaian lalu keluar dari pagar mayang. Di luar telah tersedia sebiji telur ayam yang harus dipijakinya ketika melewatinya. Ketika ia keluar untuk kembali ke ruang tengah ini dibacakan pula shalawat berramai-ramai. Di ruang tengah si wanita hamil itu kembali duduk di atas lapik di hadapan tamu-tamu, disisiri dan disanggul rambutnya. Pada saat itu juga di tepung tawari, yaitu dipercikan minyak likat beboreh dengan anyaman daun kelapa yang dinamakan tepung tawar.
Setelah itu lalu batumbang dibacakan doa selamat oleh salah seorang hadirin. Sementara itu si wanita hamil menyalami semua wanita yang hadir, lalu masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu hidangan pokok diedarkan dan kemudian ditambah dengan hidangan tambahan berupa nasi ketan (dengan inti), apam, cucur dan kue-kue lainnya yang sebelumnya dipamerkan sebagai saji. Sebagian kue saji harus disiapkan untuk dibawa pulang oleh bidan dan perempuan-perempuan tua yang tadi membantu si wanita hamil itu mandi.
Dalam upacara mandi hamil ini memiliki arti perlambangan dan makna. Pecahnya kuantan tanah ketika diduduki melambangkan pecahnya ketuban.Pecahnya mayang dengan sekali tepuk saja menandakan proses kelahiran akan berjalan dengan lancar, tetapi bila perlu ditepuk beberapa kali agar pecah, konon menandakan proses kelahiran akan terganggu (halinan baranak), meskipun diharapkan akan berakhir dengan selamat juga. Proses kelahiran diperagakan dengan meloloskan lawai pada tubuh si wanita mengisyaratkan mudahnya proses itu. Pecahnya telur ketika dipijak juga melambangkan prose kelahiran yang cepat pula. Kelapa tumbuh yang dipangku dan kemudian digendong melambangkaan bayi. Memerciki dengan tepung tawar ialah guna memberkatinya. Dan batumbang konon akan memperkuat semangatnya.
Demikianlah proses upacara mandi “Tiang Mandaring” atau “ Bapagar Mayang” yang sampai sekarang masih terus dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Banjar yang masih memegang teguh tradisi lama, terutama pada masyarakat yang tinggal di daerah-daerah pedesaan. Sedangkan pada masyarakat Banjar yang tinggal di perkotaan yang sudah mengalami kemajuan galam ilmu opengetahuan dan teknologi sebagian besar telah meninggalkan upacara ini. Akan tetapi, masih ada masyarakat Banjar perkotaan yang masih melaksanakan upacara mandi hamil ini. Meskipun pada pelaksanaannya dilakukan dengan sangat sederhana atau hanya sebatas sebagai persyaratan belaka.