Inovasi adalah suatu proses pembaharuan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi, dan modal, pengaturan baru dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru yang semua akan menyebabakan adanya sistem produksi, dan dibuatnya produk-produk baru. Sedangkan pegertian kebudayaan menurut ilmu antropologi adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Sebagai contoh inovasi kebudayaan dapat kita jumpai pada kebudayaan masyarakat Banjar Kalimantan Selatan. Beberapa di antara ciri kebudayaan Banjar adalah beragama Islam, berbahasa banjar dan tinggal di tepi sungai.
Beragama Islam
Agama Islam merupakan agama mayoritas masyarakat Banjar. Masyarakat Banjar mulai memeluk agama Islam sejak sultan kerajaan Banjar yakni Sultan Suriansyah memeluk agama Islam. Sampai sekarang pun agama Islam tetap menjadi agama mayoritas masyaraka Banjar. Salah satu inovasi yang dapat dilihat dari segi agama Islam yang dianut masyarakat Banjar adalah pembaharuan pada tempat peribadatannya. Dulu hampir semua aktivitas keagamaan dilakukan oleh masyarakat Banjar di surau yang berukuran kecil dan sederhana, tetapi sekarang telah banyak bangunan masjid yang besar dengan berbagai corak dan seni.
Berbahasa Banjar
Bahasa Banjar terbagi menjadi dua, yaitu bahas Banjar Hulu dan bahasa Banjar Kuala. Dari segi bahasa ini pun juga mengalami pembaharuan yang dapat dijumpai dari bertambahnya jumlah kosa kata yang digunakan.
Tinggal di tepi sungai
Sungai merupakan pusat kebudayaan Banjar. Hampir semua aktivitas masyarakat Banjar dilakukan di sungai. Sungai digunakan sebagai sarana transportasi, sarana pengairan lahan pertanian maupun sanitasi lingkungan, sebagai tempat penghasil bahan makanan seperti lauk pauk, dan tempat melakukan segala aktivitas sehari-hari seperti mandi, mencuci, minum, memasak dan lain sebagainya. Oleh karena itulah kebudayaan Banjar dikenal dengan kebudayaan sungai.
Kebudayaan sungai yang melekat pada masyarakat Banjar itu sendiri telah mengalami berbagai inovasi terutama dari segi teknologi dan ideologi.
1. Segi Teknologi
Dari segi teknologi, pembaharuan dapat berupa penggunaan alat baru dan metode transportasi. Penggunaan alat baru pada masyarakat Banjar dapat dilihat dari aktivitas mereka dalam berbagai mata pencaharian, misalnya bertani. Dulu dalam melakukan aktivitas bertani mereka masih menggunakan metode dan peralatan yang sederhana. Misalnya dalam hal pengolahan tanah dulu menggunakan “tajak”, sekarang sudah menggunakan traktor. Dalam hal pemisahan padi dengan batangnya, dulu masih dilakukan dengan cara “diirik” sekarang sudah menggunakan mesin perontok padi. Kemudian untuk memisahkan padi dari kulitnya, dulu dilakukan dengan cara ditumbuk di lesung, sekarang sudah menggunakan mesin penggiling padi.
Demikian juga dengan mata pencaharian perikanan. Masyarakat Banjar terbiasa menggunakan peralatan yang sederhana, misalnya pancing, tangguk, dan lukah. Sedangkan transportasi yang digunakan juga masih menggunakan jukung biasa. Sekarang sudah mnggunakan jala dan perahu yang dilengkapi dengan motor. Hal ini sangat penting dalam menghemat waktu dan tenaga, sehingga hasil tangkapan dapat dipasarkan dengan cepat.
Pada masyarakat Banjar, juga mengalami inovasi pada metode transportasi. Pada tempo dulu, masyarakat Banjar lebih mengutamakan transportasi melalui sungai. Sungai memiliki peran yang penting dalam kegiatan ekonomi, misalnya jual beli, pendistribusian barang dan transfer kebudayaan lainnya. Akan tetapi, sekarang masyrakat Banjar cenderung mengutamakan transportasi darat. Hal ini juga ditunjang dengan pembangunan jalur darat dan jembatan penyeberangan oleh pemerintah.
2. Segi Ideologi
Kebudayaan Banjar juga mengalami inovasi dari segi ideologi, misalnya dari tata cara berpakaian. Sekarang kain sasirangan yang merupakan kain khas Banjar tidak hanya dipakai sebagai sarana penyembuhan orang sakit ataupun hanya dipakai pada upacara adat masyarakat Banjar serta hanya dapat dipakai oleh golongan bangsawan. Tetapi dapat dipakai oleh siapa saja dalam berbagai acara. Apalagi sekarang kain sasirangan banyak yang dimodifikasi dalam berbagai bentuk dan motif. Demikian pula halnya dengan pakaian pengantin adat Banjar. Dulu pakaian pengantin adat Banjar hanya berwarna kuning yang merupakan warna sakral bagi orang Banjar. Sekarang sudah mengalami modifikasi dalam berbagai warna.
Inovasi kebudayaan dapat berupa pembaharuan pada ide, aktivitas dan hasil karya manusia. Inovasi yang dapat dilihat dengan jelas adalah inovasi yang berupa hasil karya, misalnya pembaharuan teknologi.
Pada kebudayaan masyarakat Banjar sendiri juga mengalami inovasi. Meskipun tidak semua inovasi yang dihasilkan tersebut berdampak positif. Misalnya ketika pemerintah daerah lebih memprioritaskan pembangunan jalur darat dan jembatan penghubung. Hal ini telah menimbulkan masalah baru yaitu akan hilangnya mata pencaharian masyarakat penjual jasa angkutan air, seperti yang terjadi pada masyarakat penawar jasa kapal penyebrangan di sungai Gampa, Ranau Badauh Kalimanan Selatan. Sebelum jembatan Rumpiang selesai dibangun saja pengguna jasa penyeberangan sudah sepi, apalagi kalau jembatan Rumpiang selesai dibangun.
Akan tetapi perlu diingat bahwa suatu kebudayaan beserta pendukungnya tidak akan mengalami kemajuan jika tidak melakukan inovasi.
Mr WordPress:
Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.
By MARTINA
INOVASI KEBUDAYAAN BANJAR
Inovasi adalah suatu proses pembaharuan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi, dan modal, pengaturan baru dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru yang semua akan menyebabakan adanya sistem produksi, dan dibuatnya produk-produk baru. Sedangkan pegertian kebudayaan menurut ilmu antropologi adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Sebagai contoh inovasi kebudayaan dapat kita jumpai pada kebudayaan masyarakat Banjar Kalimantan Selatan. Beberapa di antara ciri kebudayaan Banjar adalah beragama Islam, berbahasa banjar dan tinggal di tepi sungai.
Beragama Islam
Agama Islam merupakan agama mayoritas masyarakat Banjar. Masyarakat Banjar mulai memeluk agama Islam sejak sultan kerajaan Banjar yakni Sultan Suriansyah memeluk agama Islam. Sampai sekarang pun agama Islam tetap menjadi agama mayoritas masyaraka Banjar. Salah satu inovasi yang dapat dilihat dari segi agama Islam yang dianut masyarakat Banjar adalah pembaharuan pada tempat peribadatannya. Dulu hampir semua aktivitas keagamaan dilakukan oleh masyarakat Banjar di surau yang berukuran kecil dan sederhana, tetapi sekarang telah banyak bangunan masjid yang besar dengan berbagai corak dan seni.
Berbahasa Banjar
Bahasa Banjar terbagi menjadi dua, yaitu bahas Banjar Hulu dan bahasa Banjar Kuala. Dari segi bahasa ini pun juga mengalami pembaharuan yang dapat dijumpai dari bertambahnya jumlah kosa kata yang digunakan.
Tinggal di tepi sungai
Sungai merupakan pusat kebudayaan Banjar. Hampir semua aktivitas masyarakat Banjar dilakukan di sungai. Sungai digunakan sebagai sarana transportasi, sarana pengairan lahan pertanian maupun sanitasi lingkungan, sebagai tempat penghasil bahan makanan seperti lauk pauk, dan tempat melakukan segala aktivitas sehari-hari seperti mandi, mencuci, minum, memasak dan lain sebagainya. Oleh karena itulah kebudayaan Banjar dikenal dengan kebudayaan sungai.
Kebudayaan sungai yang melekat pada masyarakat Banjar itu sendiri telah mengalami berbagai inovasi terutama dari segi teknologi dan ideologi.
1. Segi Teknologi
Dari segi teknologi, pembaharuan dapat berupa penggunaan alat baru dan metode transportasi. Penggunaan alat baru pada masyarakat Banjar dapat dilihat dari aktivitas mereka dalam berbagai mata pencaharian, misalnya bertani. Dulu dalam melakukan aktivitas bertani mereka masih menggunakan metode dan peralatan yang sederhana. Misalnya dalam hal pengolahan tanah dulu menggunakan “tajak”, sekarang sudah menggunakan traktor. Dalam hal pemisahan padi dengan batangnya, dulu masih dilakukan dengan cara “diirik” sekarang sudah menggunakan mesin perontok padi. Kemudian untuk memisahkan padi dari kulitnya, dulu dilakukan dengan cara ditumbuk di lesung, sekarang sudah menggunakan mesin penggiling padi.
Demikian juga dengan mata pencaharian perikanan. Masyarakat Banjar terbiasa menggunakan peralatan yang sederhana, misalnya pancing, tangguk, dan lukah. Sedangkan transportasi yang digunakan juga masih menggunakan jukung biasa. Sekarang sudah mnggunakan jala dan perahu yang dilengkapi dengan motor. Hal ini sangat penting dalam menghemat waktu dan tenaga, sehingga hasil tangkapan dapat dipasarkan dengan cepat.
Pada masyarakat Banjar, juga mengalami inovasi pada metode transportasi. Pada tempo dulu, masyarakat Banjar lebih mengutamakan transportasi melalui sungai. Sungai memiliki peran yang penting dalam kegiatan ekonomi, misalnya jual beli, pendistribusian barang dan transfer kebudayaan lainnya. Akan tetapi, sekarang masyrakat Banjar cenderung mengutamakan transportasi darat. Hal ini juga ditunjang dengan pembangunan jalur darat dan jembatan penyeberangan oleh pemerintah.
2. Segi Ideologi
Kebudayaan Banjar juga mengalami inovasi dari segi ideologi, misalnya dari tata cara berpakaian. Sekarang kain sasirangan yang merupakan kain khas Banjar tidak hanya dipakai sebagai sarana penyembuhan orang sakit ataupun hanya dipakai pada upacara adat masyarakat Banjar serta hanya dapat dipakai oleh golongan bangsawan. Tetapi dapat dipakai oleh siapa saja dalam berbagai acara. Apalagi sekarang kain sasirangan banyak yang dimodifikasi dalam berbagai bentuk dan motif. Demikian pula halnya dengan pakaian pengantin adat Banjar. Dulu pakaian pengantin adat Banjar hanya berwarna kuning yang merupakan warna sakral bagi orang Banjar. Sekarang sudah mengalami modifikasi dalam berbagai warna.
Inovasi kebudayaan dapat berupa pembaharuan pada ide, aktivitas dan hasil karya manusia. Inovasi yang dapat dilihat dengan jelas adalah inovasi yang berupa hasil karya, misalnya pembaharuan teknologi.
Pada kebudayaan masyarakat Banjar sendiri juga mengalami inovasi. Meskipun tidak semua inovasi yang dihasilkan tersebut berdampak positif. Misalnya ketika pemerintah daerah lebih memprioritaskan pembangunan jalur darat dan jembatan penghubung. Hal ini telah menimbulkan masalah baru yaitu akan hilangnya mata pencaharian masyarakat penjual jasa angkutan air, seperti yang terjadi pada masyarakat penawar jasa kapal penyebrangan di sungai Gampa, Ranau Badauh Kalimanan Selatan. Sebelum jembatan Rumpiang selesai dibangun saja pengguna jasa penyeberangan sudah sepi, apalagi kalau jembatan Rumpiang selesai dibangun.
Akan tetapi perlu diingat bahwa suatu kebudayaan beserta pendukungnya tidak akan mengalami kemajuan jika tidak melakukan inovasi.